Selama di haromain
yakni Makkah dan Madinah, tujuan utama kita memang
untuk beribadah, sebab pahala berlipat ganda menanti kita jika mau melaksanakan
salat, khususnya di Masjid Nabawi yang ada di Kota Madinah, dan Masjidil Haram
yang ada di Kota Mekah. Selain fokus beribadah kepada Allah SWT, tentunya juga
kita sebagai mahluk sosial harus bisa mengimplementasikan sifat-sifat
kemanusiaan kita selama disana.
Banyak pelajaran yang kami dapatkan
selama disana diantaranya
adalah meningkatkan kedisiplinan, meningkatkan kualitas ibadah, memunculkan
sifat sabar, melahirkan rasa solidaritas serta meningkatkan dakwah dengan
meningkatkan pesan-pesan yang Nabi Muhammad SAW ajarkan. Dan pada tulisan ini
akan lebih dalam membahas sifat sabar
selama di tanah suci.
ibadah umroh itu merupakan tempat
bertemunya seluruh umat islam seluruh dunia untuk melaksanakan perintah Allah SWT,
yakni menjalankan ritual-ritual yang telah ditetapkan. Seperti halnya niat
berihram, tawaf sebanyak tujuh putaran, sai hingga terakhir adalah tahalul atau
mencukur rambut. Dan juga setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak melakukan
ibadah lainnya selama berada di Mekah dan Madinah.
Sifat sabar memang harus menjadi perhiasan bagi setiap jamaah umroh. Kesabaran kita dituntun tidak hanya saat pelaksanaan ibadah umroh saja, melainkan dari proses awal persiapan ibadah umroh, mulai dari pendaftaran, pengurusan paspor, keberangkatan, proses pemeriksaan dokumen di bandara dan menunggu pesawat selama berjam-jam. Setelah sampai di haromain, semakin tinggi ujian kesabaran kita, karena kita berhadapan dengan banyak orang yang tentunya berbeda karakter, fisik dan bahasa. Disinilah kita mesti bisa berlatih sabar dalam mengendalikan diri sendiri yang penuh dengan hasrat dan kebiasaan yang sering sekali dilakukan di rumah.
Kesabaran kita juga diuji ketika di hotel dimana kita menginap. Hotel yang terdiri dari 12 lantai yang semuanya terisi oleh orang yang sama menunaikan ibadah umroh dengan jumlah lift yang hanya 6 buah, tentunya kita mesti bersabar menunggu giliran dalam menggunakan lift yang hampir setiap waktu digunakan oleh jama’ah umroh yang menginap, terlebih bila waktu sholat fardhu tiba.. masya Allah padatnya. Selain masalah penggunaan lift, ujian kesabaran berikutnya manakala disaat waktu makan tiba, dengan sistem prasmanan yang disajikan hotel, kita harus rela mengantri baik itu dalam mengambil makanan dan minuman, juga mengantri meja akan dengan mencari atau menunggu jama’ah yang sudah selesai makan.
Kesabaran berikutnya ketika berada di tanah haramain, adalah
bersabar menghadapi rutinitas ibadah sehari-hari. Bagi yang belum terbiasa, mungkin
akan terasa berat, bahkan amat sulit dalam menjalankan ketaatan dan perintah
Allah SWT sehingga membutuhkan kesabaran yang tinggi. Misalnya sabar dalam
menahan diri dari sifat malas agar tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban
salat tepat pada waktunya, menjalankan salat selalu berjamaah, sabar dalam
menjaga lisan, hati dan pikiran, dan lain sebagainya. Membuang rasa malas
ketika di tanah suci memang membutuhkan perjuangan ekstra dan kesabaran tingkat
tinggi. Kendati demikian, rasa malas itu akan hilang dengan sendirinya ketika kita
selama di sana merasa happy, enjoy, dan menikmati. Dan saya betul-betul
merasakan tiga hal tersebut, serta berlatih sabar-sabar yang lainnya.
Semoga Allah SWT segera memberikan undangan kepada para pembaca tulisan ini, dan jangan lupa persiapkan diri baik fisik, mental, hati dan fikiran serta luruskan niat. Sebab godaan dan ujian akan kita jumpai selama di tanah suci, dari mulai faktor cuaca, bertemu dengan orang curang, berebut fasilitas umum, antri memasuki masjid dan ujian-ujian yang lainnya, dimana kita dituntut untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menjalaninya.



إرسال تعليق