CORONA MEMBUNUH MANUSIA BUKAN KEMANUSIAAN



MOHAMMAD KHOLID, S.Pd.I
NIP. 197801202007101003
MTs NEGERI 9 INDRAMAYU

 

KUNINGAN (MASS).  Hari ini matahari besinar penuh semangat. Pak Tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya. Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.

Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah isteri dan anaknya. Ia menyeka keringat dengan handuk yang tergantung dilehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 disetiap perbatasan. Mengingat sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.

Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk, meskipun mendapa gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan). Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat bepergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk. Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.

Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah, hanya itu yang ada dalam benak pa Tumin. Tapi sayangnya, raga rentahnya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh, ia berhenti disebuah warung kopi kecil pinggir jalan.

Pak Tumin :” Punten bu numpang duduk”.

Ibu Warung :” Silahkan pak”.

Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. ia binggung, mengingat belum sepersenpun uang yang ia dapat. Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pa Tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba.

Ibu Warung : “Pak, silahkan ambil aja”.

Pak Tumin : “Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja”.

Karena merasa malu, tak beberapa lama Pak Tumin pamit

Pak Tumin : “Ibu terima kasih”.

Ibu Warung : “Tunggu dulu pa! Ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak”.

Pak Tumin : “Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali”.

Ibu Warung : “Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak he.. he..”

Pak Tumin : “Ah terimakasih bu terimakasih”.

Ibu Warung : “sama-sama pak”.

Pak Tumin : “Kalau begitu sya pamit bu”.

Wajah pak Tumin sedikit sumringah  melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekedar memuaskan rasa laparnya, tapi ia berfikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan isterinya juga.  Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.  Ia membuka bungkusan itu, terlihat ada 5 gorengan yang sudah dingin. Ia melahap 1 buah gorengan ubi sambil membaca tulisan yang ada dalam koran pembungkus tersebut, ia menjumpai sebuah puisi yang berbunyi seperti ini :

 

 Tuhan Mengajarkan Melalui Corona

Karya : KH. Mustafa Bisri

 

Vatikan sepi

Yerussalem sunyi

Tembok ratapan dipagari

Paskah tidak pasti

Ka’bah tutup

Sholat jum’at di rumahkan

Umroh batal

Sholat tarawih ramadhan mungkin juga bakan sepi

Corona datang

Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh

Bahwa “hura-hura” atas nama tuhan itu semu

Bahwa simbol dan upacara itubanyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagang saja

Ketika corona datang

Engkau dipaksa mencari tuhan

Bukan di Basilika Santo Petrus

Bukan di Ka’bah

Bukan di dalam Gereja

Bukan di Mesjid

Bukan di Mimbar khotbah

Bukan dalam misa Minggu

Bukan dalam sholat jumat

 

Melainkan,

Pada kesendirianmu

Pada mulutmu yang terkunci

Pada hakikat yang senyap

Pada keheningan yang bermakna.

 

Corona mengajarimu

Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian

Tuhan bukan (melulu) pada ritual

Tuhan itu ada pada jelan keputus asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

Corona memurnikan agama

Bahwa tidak ada yang boleh tersisa.

Kecuali Tuhan itu sendiri!

Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar.

Tidak ada lagi sorak sorai

Memperdagangkan nama Tuhan.

 

Datangi, temui dan kenali DIA didalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri

Temui DIA disaat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamaNya.

 

Sesungguhnya kerajaan Tuhan ada dalam dirimu

Qolbun mukminin baitullah

Hati orang yang beriman adalah rumah tuhan.

 

Biarlah hanya tuhan yang ada.

Biarlah hanya nuranimu yang bicara

Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini    

Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

 

Surabaya,22 Maret 2020

Bergetar hatinya membaca buah pena seorang Gus Mus. Benar memang, dengan adanya virus ini kesombongan manusia menunduk, semua orang sibuk bukan hanya dengan dirinya sendiri tapi untuk dirinya sendiri.

Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas diempari dengan batu atau apapun itu. Miris meemang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan. Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi ia teringat anak isterinya yang di rumah. Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak isterinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore. Kayuhan sepedanya mengantarkan pada desa berikutnya. Di posko covid-19 perbatasan suatu desa.

Pak Tumin : “tetot.. tetot.. !!!”

Pemuda 1 : “kesini dulu pak ! Bapak  orang desa sini ?”

Pak Tumin : “Oh bukan mas, saya hanya ingin menjajahkan cilok kedesa ini”.

Pemuda 2 : “Oh.. kalo begitu ya maaf maaf lah pak, sekarangkan lagi darurat virus corona, jadi sebagai antisipasi setiap orang yang bukan warga sini harus diperiksa atau bahkan dilarang masuk”.

Pak Tumin : “iya mas, saya paham betul situasi saat ini, tapi saya cuman mau jualan. Ya maklum lah mas, saya orang kecil yang makan atau tidaknya itu ditentukan dari seberapa keras saya menutup hari. Hari ini saya sudah keliling beberapa desa dan sama sekali tidak ada yang beli. Karena semua juga menutup pintu masuk desa terutama untuk orang yang bukan bermukim di desa tersebut.  Jadi barangkali saya bisa menjemput rizki Allah di desa ini (tersenyum lelah)”.

Hansip : “Iya.. iya saya paham pak, tapi ini bentuk pencegahan penularan penyakit agar warga desa kami nyaman, aman, kokoh, dan terpercaya”.

Pemuda 1 : “hah.. seperti semen aja”.

Pemuda 2 : “Ya sudah begini saja pak, bapak saya periksa dulu sebagai bentuk laporan orang yang masuk desa. Mangga, silahkan duduk!”

Pembeli : “Mang cilok, Oh ya mas. Uhuhuhuk!!” (batuk)

Pemuda 2 : “Stop pak! Menurut buku yang saya baca, salah satu gejalanya penyakit ini adalah batuk, jadi sudah cukup, Bapak tidak perlu melapor. Sebaiknya Bapak jualan di desa lain aja. Maaf pak, kami tidak mau ambil resiko”.

Pak Tumin : “Tapi saya sehat-sehat saja mas”.

Pemuda 1 : “Iya, tapi kan ada beberapa orang positif corona tanpa gejala juga. Sudahlah pak, tolong hargai kami, kami tidak mau kecolongan. Kan kita tidak tahu Bapak membawa virus itu atau tidak ? nah kalau ada yang sampai meninggal gara-gara kecerobohan kami, desa ini juga yang repot”.

Pak Tumin : “waduh mas, kalau begini caranya, pedagang kaya saya tidak bisa makan setiap hari. Di rumah, anak dan isteri saya menunggu saya pulang membawa beberapa rupiah untuk bertahan hidup”.

Pemuda 2 : “haha.. Bapak ini ngmong apa sih ? kaya tidak percaya Allah saja. Nih Pak saya beritahu, yang namanya orang hidup itu pasti diberi rizki sama yang maha kuasa. Jadi Bapak tidak usah khawatir

Pak Tumin : “Iya mas sya tahu itu. (sambil tersenyum) kalau begitu, berarti mas juga tidak percaya sama Allah ya ?”

Pemuda 2 : “Loh kok begitu ?”

Pak Tumin : “Iya, bukankah hiidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah semenjak ruh ditiupkan dialam rahim ? dan itu pasti. Tidak bisa diundur atau dimajukan, tidak bisa dihindari atau dinegosiasi. Betul ?”

Hansip : “Iya betul, tapi kan kita harus ikhtiar, dan ini slah satu bentuk ikhtiar kami pak

Pak Tumin : kalau begitu, berjualan disini juga salah satu bentuk ikhtiar saya untuk menjemput rizki Allah pak (tersenyum). Permisi.”

Gelap mulai merambah menutup hari. Hanya Rp. 15.000,- yang tersimpan di sakunya. Sesampainya dirumah.

Pak Tumin : “Assalamu’alaikum”

Isteri : “Wa’alaikumsalam, Pak ? kok sampai isya baru pulang ?”

Pak Tumin : “iya bu, tadi ke mesjid dulu”

Isteri : “Oh.. Bagaimana pak ? Dapat berapa ?”

Pak Tumin : “Ini bu hanya 15 rb, itupun dibeli ustadz somad di mesjid tadi”

Isteri : “Alhamdulillah pak, kebetulan beras sudah mau habis, bisa untuk beli beras sedapatnya saja

Anak : Pak, Bu.. kuota irfan habis, irfan mau ngerjain tugas pak, sekarang serba online”.

Si Isteri menatap uangnya. Tapi ia tahu betul, ada yang lebih berharga dari uang tersebut, yaitu kabaikan untuk anaknya, termasuk pendidikan.

Isteri : “Ya sudah, ini beli kuotanya sana, tapi hanya segini uangnya nak”

Anak : “Iya bu, ini cukup (lalu pergi)”

Sang isteri senyum menatap suaminya

Isteri : “Tidak apa-apa pak, besok biar irfan yang makan”

Sang suami menangis tersedu mencaci ketidak mampuannya

Isteri : “Pak, Insya Allah ada rizki buat besok (memeluk)”

 

       

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama